Jumat, 27 November 2015

Hari-hariku disibukan dengan tugas kuliah, dengan tugas-tugas yang membuatku lelah. Semua aku lakukan agar aku tidak punya waktu untuk mengingatmu, agar aku tidak lagi menangisimu.
Sehari setelah kamu pergi, aku merasa duniaku tidak lagi berotasi dengan normal. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa menatap senyummu, tanpa melihat sosokmu, tanpa membaca pesan singkatmu, dan tanpa mendengar suaramu. Hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah hari-hari penuh ketakutan. Dalam hati, aku berharap kamu pulang, namun nampaknya wanita yang telah bersamamu saat ini tidak mungkin mengikhlaskan dirimu kembali padaku.
Satu minggu menangisimu, nyatanya belum cukup bagiku. Aku masih meratapi kepergianmu bahkan saat satu bulan kita berpisah. Dua bulan ketika kamu tidak lagi bersamaku, entah mengapa semua rasa sesak masih tidak beranjak karena tahu melupakanmu bukanlah perkara yang mudah. Namun, nyatanya, bayang-bayangmu kian membesar. Semua kenangan kita, yang harusnya aku lupakan itu, justru makin membesar. Sakit hatiku ternyata masih berusia panjang aku masih menemukan diriku yang masih sering menangisimu. Kemarin, 20 November 2015 adalah tanggal jadian kita dulu. Selamat gagal kesekian bulan untukku dan selamat gagal kesekian bulan karena aku tidak berhasil melupakanmu. Kini, aku merasa semakin bodoh, karena aku tidak sekuat dan seikhlas itu untuk menerima kenyataan— bahwa kita tak lagi sejalan.
 
(dwitasaridwita)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar