Hari-hariku disibukan dengan tugas
kuliah, dengan tugas-tugas yang membuatku lelah. Semua aku lakukan agar
aku tidak punya waktu untuk mengingatmu, agar aku tidak lagi
menangisimu.
Sehari setelah kamu pergi, aku merasa duniaku tidak lagi berotasi dengan
normal. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa menatap senyummu, tanpa
melihat sosokmu, tanpa membaca pesan singkatmu, dan tanpa mendengar
suaramu. Hari-hari yang aku lewati tanpamu adalah hari-hari penuh
ketakutan. Dalam hati, aku berharap kamu pulang, namun nampaknya wanita
yang telah bersamamu saat ini tidak mungkin mengikhlaskan dirimu kembali
padaku.
Satu minggu menangisimu, nyatanya belum cukup bagiku. Aku masih meratapi
kepergianmu bahkan saat satu bulan kita berpisah. Dua bulan ketika kamu
tidak lagi bersamaku, entah mengapa semua rasa sesak masih tidak
beranjak karena tahu melupakanmu bukanlah perkara yang mudah. Namun, nyatanya, bayang-bayangmu kian membesar. Semua kenangan kita, yang harusnya aku lupakan itu, justru makin membesar. Sakit hatiku ternyata masih berusia panjang aku masih menemukan diriku yang masih sering menangisimu. Kemarin, 20 November 2015 adalah tanggal jadian kita dulu. Selamat gagal kesekian bulan untukku dan selamat gagal kesekian bulan karena aku tidak
berhasil melupakanmu. Kini, aku merasa semakin bodoh, karena aku tidak
sekuat dan seikhlas itu untuk menerima kenyataan— bahwa kita tak lagi
sejalan.
(dwitasaridwita)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar